June 2014
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Archives

Kakao (Theobroma cacao L) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan,  dari  biji tanaman ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Biji buah  kakao yang telah difermentasi dijadikan serbuk yang disebut sebagai coklat bubuk. Coklat ini dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman. Buah kakao tanpa biji dapat difermentasi untuk dijadikan pakan ternak. lndonesia memiliki perkebunan kakao yang dapat menyumbang pendapatan negara dari kakao yang merupakan komoditas ekspor nonmigas. Menurut Departemen Perindustrian (2007) daerah penghasil kakao Indonesia adalah sebagai berikut: Sulawesi Selatan 184.000 ton (28,26%), Sulawesi Tengah 137.000 ton  (21,04%). Sulawesi Tenggara 111.000 ton (17,05%), Sumatera Utara 51.000 ton (7,85%). Kalimantan Timur 25.000 ton (3.84%). Lampung 21.000 ton (3,23%) dan daerah lainnya 122.000 ton (1 8,74%) .

lndonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara Pantai Gading dan Ghana. Tiga besar negara penghasil kakao sebagai berikut: Pantai Gading (1.276.000 ton), Ghana (586.000 ton), Indonesia (456.000 ton). Luas lahan tanaman kakao Indonesia lebih kurang 992.448 Ha dengan produksi biji kakao sekitar 456.000 ton per tahun, dan produktivitas rata-rata 900 Kg per ha (Departemen Perindustrian, 2007). Saat ini, lndonesia mengekspor 40% kakao ke Malaysia, 30% ke AS, 15% ke Singapura, dan 15% ke Eropa. Produksi kakao Indonesia tahun 2008 dibandingkan dengan tahun 2007 menurun 4% dari 500.000 ton menjadi 480.000 ton. Harga rata-rata kakao selama tahun 2008 sebesar US$ 2.500 per ton dan pada tahun 2009 diperkirakan meningkat menjadi US$ 2.900 per ton (Husaini, 2009). Untuk itu, kakao sebagai salah satu komoditi ekspor nonmigas yang potensial, maka produksi kakao perlu ditingkatkan.

Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks, antara lain mutu produksi masih rendah, serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao, produktivitas hasil masih rendah salah satunya akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK). Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao (Goenadi, 2007).

Penggerek Buah Kakao (PBK), Conophomorpha cramerella Snellen dari Famili Gracillariidae merupakan salah satu hama kakao yang sangat merugikan dan menimbulkan masalah yang cukup serius di Indonesia. Hama ini memakan plasenta yang merupakan saluran makanan menuju ke biji sehingga mengakibatkan penurunan hasil dan mutu biji. Penggerek Buah Kakao dapat menyerang buah dengan panjang buah 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran sekitar 8 cm. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya lebih berat daripada yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil (Gambar A) (Hindayana, 2002).

Daur hidup PBK melalui tahapan metamorfosis : telur, ulat, kepompong, lalu menjadi ngengat. Telurnya berwarna jingga, diletakkan satu per satu pada permukaan kulit buah. Setelah itu menjadi ulat yang berwarna putih kekuningan atau hijau muda dengan panjangnya sekitar 11 mm. Setelah ulat keluar dari dalam buah dia berkepompong pada permukaan buah, daun, serasah, karung atau keranjang tempat buah. Kepompong ini berwarna putih. Sedangkan tahap akhir metamorfosis dari kepompong akan keluar menjadi ngengat, yang aktif pada malam hari, yaitu sejak matahari terbenam sampai dengan pukul 20:30. Pada siang hari mereka berlindung di tempat yang teduh dan panjang 7 mm. Seekor ngengat betina (Gambar B) mampu bertelur 50- 100 butir (Hindayana,  2002).

Kehidupan PBK juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti iklim yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada aspek kehidupan serangga seperti perilaku dan fisiologi. Pengaruh iklim terhadap perilaku serangga antara lain, aktivitas kawin, peletakkan telur, dan aktivitas terbang, sedangkan pengaruh terhadap populasi adalah laju kelahiran, kematian, pertambahan jumlah dan penyebaran. Suhu dan kelembaban juga berpengaruh nyata terhadap perkembangan PBK. Pada suhu 20°C dan kelembaban 80% persentase telur menetas hanya 69,64%, sedangkan pada suhu 20°C dengan kelembaban 40-50% persentase telur yang menetas 95,12%.

A                                              B

Gambar (A) Contoh infeksi PBK pada kakao dan (B) PBK dewasa

Pada tahun 2005, Balai Penelitian Perkebunan Indonesia telah berhasil menghasilkan tanaman kakao transgenik dengan cara mentransformasi gen cry pada tanaman kakao, sehingga tanaman kakao yang dihasilkan ini memiliki ketahanan terhadap serangan hama termasuk PBK, namun keberhasilan ini tidak dapat meningkatkan perkembangan perkebunan kakao yang sedang terpuruk oleh serangan hama PBK. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh asing dalam hal ini pemerintahan Amerika yang mengancam akan memboikot eksport kakao Indonesia ke Amerika jika proyek pemulyaan tanaman kakao dengan cara ini dilakukan, maka kementrian pertanian dan perkebunan Indonesia memutuskan untuk memenuhi tuntutan ini guna tetap mendapatkan pasar eksport Amerika.

Alasan ilmiah dibalik penolakan atas pengembangan teknologi yang ditemukan oleh para peneliti lndonesia ini tidak memenuhi aspek rasionalitas yang logis. Gen cry yang cara kerjanya ialah menghasilkan protein yang jika dicerna oleh protease akan menghasilkan toksin sehingga dapat menjadi perlindungan alami tanaman kakao dari berbagai hama yang menyerangnya. Protein ini akan menghasilkan toksin jika dicerna oleh protease pada pH relative basa atau sekitar 10 yang merupakan pH alamiah dari berbagai hama-hama termasuk parasit dan serangga-serangga. Sedangkan pH pada tubuh manusia dan hewan vertebrata ialah berkisar antara 4 sampai pH netral, sehingga dapat dikatakan gen cry ini aman bagi manusia.

Penolakan yang dilayangkan oleh kementrian Amerika ini dapat dikatakan lebih karena alasan politis semata. Publikasi ilmiah yang ditulis oleh Chaidamsari et al. 2005 telah mengundang reaksi beberapa peneliti di Amerika, karena publikasi internasional ini merupakan yang pertama kali dan ditemukan oleh negara yang secara perhitungan bukanlah Negara pioner dalam bidang bioteknologi yaitu Indonesia. Prestasi ini kemudian harus dibekukan hanya karena persepsi yang berbeda tentang tanaman transgenik antara Eropa dan Amerika.

Transgenik dalam sudut pandang Eropa ialah semua bentuk rekombinan genetika baik gen yang diperoleh dari sejenis ataupun berbeda jenis, berbeda dengan sudut pandang Amerika baru dikatakan transgnik jika gen yang transformasikan menghasilkan rekombinan berasal dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh jika pemulyaan tanaman menggunakan gen dari tanaman ditransformasikan ketanaman lain, maka dalam sudut pandang Amerika ha1 ini belum dikatakan transgenik, karena gen yang ditransformasikan berasal dari tanaman juga, sedangkan dalam sudut pandang Eropa ini termasuk transgenik karena gen itu bukanlah gen original dari individu itu sendiri. Adanya perbedaan ini kemudian dijadikan acuan dalam pengembangan tanaman transgenik selanjutnya agar penolakan terhadap keberhasilan pemulyaan tanaman di Indonesia tidak menjadi hambatan dalam penerapannya.

Salah satu cara yang diterapkan untuk mengatasi masalah hama PBK ini adalah dengan cara pengendalian hama PBK secara nasional dan pemilihan varietas tanaman kakao yang resisten terhadap hama PBK juga diperlukan. Selain itu cara lain dalam memperoleh varietas unggul yaitu dengan kakao transgenik dengan cara memanfaatkan gen pertahanan alami pada tanaman kakao itu sendiri yang disebut gen proteinase inhibitor (PIN). PIN merupakan gen yang dapat menghasilkan senyawa protein antinutrisi yang dapat menghambat kerja enzim proteolitik (protease) di dalam perut serangga (Ryan 1990). Apabila termakan oleh hama PBK, protein tersebut akan berinteraksi dengan protease yang ada di dalam usus hama tersebut, terikat dan terkunci pada situs aktif (active site) protease (Terra et a1 1996 dan Walker et al. 1998), kemudin hama PBK menjadi kekurangan nutrisi karena tidak ada asam amino yang diserap oleh tubuhnya, sehingga pertumbuhan dan perkembangan menjadi terhambat dan kemudian menyebabkan kematian pada hama PBK. Diharapkan dengan pengembangan penelitian ini dapat mengatasi permasalahan yang terjadi di industri perkebunan kakao. Namun alasan politis akan tetap menjadi masalah yang selalu menghambat jika sentiment negative tidak bias kita atasi, oleh karena itu perlu juga dilakukan pengembangan sumber daya manusia yang handal dalam berdiplomatis dengan negara-negara lain, agar hal serupa tidak terjadi lagi saat bangsa kita telah berhasil dengan pengembangan teknologi terbaru.

Terlepas dari hal diatas data produksi maupun konsumsi kakao dunia menunjukkan adanya kestabilan dalam arti tidak terdapat fluktuasi kenaikan maupun penurunan yang menyolok. lndonesia merupakan penghasil kakao namun dari segi produktivitas masih rendah. Tersedianya lahan perkebunan kakao yang telah ada seharusnya dapat memberikan peluang untuk menghasilkan produksi kakao yang lebih besar lagi dengan pengelolaan tanaman yang tepat dan pengolahan yang tepat sehingga menghasilkan biji kakao dengan kualitas yang tinggi. Demikian pula dilihat dari segi pengolahan, kakao yang dihasilkan oleh petani tidak diolah secara baik (difermentasi) tetapi sebagian besar langsung diekspor dalam bentuk biji kakao sehingga nilai tambah yang dihasilkan sedikit (Departemen Perindustrian, 2007). Untuk itu pengembangan industri kakao harus dilakukan bukan hanya pada proses produksi menghasilkan biji kakao saja, tetapi juga harus diiringi dengan pengembangan dan pertumbuhan indutri pengolahan setelah produksi untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar.

lndonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Pengembangan usaha maupun investasi baru di bidang kakao dapat dilakukan mulai dari usaha pertanian primer yang menangani perkebunan kakao, usaha agribisnis hulu dalam memenuhi kebutuhan pertanian kakao seperti peralatan dan sarana produksi kakao, serta usaha agribisnis hilir yang memproduksi hasil olahan biji kakao(Departemen Perindustrian. 2007). Dan saat ini telah dibuka beberapa perkebunan kakao baru dibeberapa wilayah lndonesia seperti Sulawesi dan Sumatra. Dengan dibukanya perkebunan baru ini diharapkan dapat meningkatkan kembali eksport kakao yang dapat memberikan tambahan devisa bagi Indonesia.

Selanjutnya untuk melaksanakan program pengembangan agribisnis kakao tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar yang mencakup kegiatan investasi peningkatan produktivitas kebun, biaya pengendalian hama PBK, investasi pengembangan sistem usahatani terpadu, dan pengembangan industri hilir kakao serta pembangunan infrastruktur pendukungnya termasuk kegiatan penelitian dan pengembangan hasil penelitian (Departemen Perindustrian. 2007).

Untuk mencapai tujuan dan sasaran pengembangan agribisnis kakao, dukungan kebijakan yang diperlukan antara lain: Pemerintah perlu mendorong terbentuknya usaha-usaha industri cokelat skala UKM dan pemasaran yang efisien; peningkatan mutu kakao ditempuh melalui penerapan teknologi pascapanen yang berorientasi pada kebutuhan pasar; dan upaya pengurangan hambatan-hambatan ekspor seperti automatic detention (potongan harga) regulasi lain dari negara konsumen dapat dilakukan melalui perbaikan mutu secara berkelanjutan, kerjasama antara kelompok tani dan eksportir maupun prosesor. serta menghindari publikasi yang berlebihan tentang hama dan penyakit tanaman kakao (Departemen Perindustrian, 2007).

Daftar Pustaka

Chaidamsari T. 2005. Biotechnology for Cacao Pod Borer Resistance in Cacao. Plant Research International. The Netherlands : Wagenigen University.

Departemen Perindustrian, 2007. Gambaran Sekilas lndustri Kakao. Dari Sekertariat jendral Departemen Perindustrian, www.depperin.go.id/gambaran_sekilas_industri_kakao.pdf [Terhubung berkala] [02/02 /2009].

Goenadi D. H. et al, 2007. Arah Dan Pengembangan Agribisnis Kakao, edisi kedua. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian

Hindayana D. et al, 2002. Musuh Alami, Hama Dan Penyakit Tanaman Kakao, Edisi Kedua. Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Jakarta.

Husaini A. 2009. Pengusaha Kakao Minta PPN Tetap 0%. Pada Tabloit Harian Kontan tanggal 10 januari 2009, \www.kontan.id/Pengusaha_Kakao_Minta_PPN_Tetap_0%.html. [Terhubung berkala] [02/02/2009]

Ryan C.A. 1990. Proteinase Inhibitors in Plants: Genes for improving defenses against insect and pathogens. Annu. Rev. Phytopayhol 28: 425-449

Terra WR, Ferreira C dan Jordao BP. 1996. Digestive enzyme. Lehane MJ (ed) Billin London, Chapman and Hall. 153-194 Walker, A.J. et al. (1998). Characterisation of the midgut digestive proteinase activity of the two-spot ladybird (Adalia bipunctata L.) and its sensitivity to proteinase inhibitors. Insect Biochemistry and Molecular Biology 28: 173-1 80.

(sumber: http://pip.student.ipb.ac.id/2010/12/13/sekilas-industri-kakao-di-indonesia-2/)

 

LEBAH MADU

HARUN YAHYA


Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)

Madu dihasilkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan lebah. Jelaslah bahwa minuman berkhasiat obat ini diciptakan agar bermanfaat bagi manusia.

Hampir semua orang tahu bahwa madu adalah sumber makanan penting bagi tubuh manusia, tetapi sedikit sekali manusia yang menyadari sifat-sifat luar biasa dari sang penghasilnya, yaitu lebah madu.

Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah sari madu bunga (nektar), yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh karena itulah, lebah mencampur nektar yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh mereka. Campuran ini menghasilkan zat bergizi yang baru -yaitu madu- dan menyimpannya untuk musim dingin mendatang.

Sungguh menarik untuk dicermati bahwa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan pembuatan dalam jumlah berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata “wahyu [ilham]” yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi.

Lebah menghasilkan madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari kendatipun tidak membutuhkannya dan sapi yang menghasilkan susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!